Sesuatu yang anda sukai, yang anda gemari, yang anda sayangi; hobi anda dikatakan sampah oleh teman yang menurut anda seharusnya mendukung anda atau paling tidak memberikan penghargaan dengan tidak mencela apa yang anda lakukan.
Marah?
Sakit hati?
Kecewa kah anda??
Saya tertawa. Karena faktanya dia tau posting terakhir saya.
Saya tersenyum. Karena faktanya blog saya memanfaatkan fasilitas situs blog gratis yang–katanya—tidak dia sukai.
Saya berterima kasih. Karena dengan begitu membuktikan bahwa dia mau bersusah payah mencari, membuka dan membaca hal yang saya sukai, meskipun katanya semua itu sampah.
Kesukaan, kegemaran atau hobi adalah sesuatu hal yang sangat subjektif. Tiap individu mempunyai cara masing-masing dalam mengapresiasikan apa yang disukainya. Menyukai atau memiliki kesamaan hobi pun tidak serta merta membuat individu-individu itu menjadi sosok yang serupa. Saya suka menulis dan–terutama—membaca tulisan orang lain.
Bahwa hobi adalah sesuatu hal yang sangat subjektif, berimbas pada kesadaran bahwa tidak semua orang menyukai apa yang disukai oleh orang lainnya. Hobi tidak bisa dipaksakan bahkan untuk sekedar mengajak melirik.
Saya suka menulis dan tidak mengharapkan orang lain suka pada hobi saya. Kesukaan saya menulis juga tidak mengharapkan orang lain untuk suka dan membaca apa yang saya tulis. Yang saya tulis adalah apa yang ingin saya tulis bukan apa yang orang ingin baca dari tulisan saya. Jadi, ketika ada yang menganggap tulisan saya sampah, saya akan menghargainya sama besar seperti ketika ada yang mengapresiasi positif tulisan saya. Saya menulis karena saya suka menulis. Kalau kemudian ada yang membaca, menanggapi, bahkan menyukai tulisan saya, itu—buat saya—adalah bonus tambahan yang positif.
“menulis adalah suatu bentuk doa paling kuno yang mengungkapkan kepercayaan bawa komunikasi dengan orang lain adalah sesuatu yang masih dimungkinkan apapun situasinya. menulis adalah juga suatu bentuk pengakuan akan ketidakberdayaan yang sekaligus akan mengantarkan seseorang pada proses transformasi diri. menulis mengubah lawan bicara menjadi teman bicara. menulis juga mengubah seseorang yang acuh tak acuh menjadi pembaca yang penuh perhatian (fatima mernissi)”
Jadi, kalau teman saya itu bilang tulisan di blog itu sampah, dia orang yang tidak beruntung. Karena kalau memang tulisan di blog adalah sampah, maka saya sungguh tidak keberatan untuk menjadi pemulung tempat sampah orang-orang kreatif yang mengisi tempat sampahnya dengan kumpulan harapan, menyeimbangkan mimpi dan kenyataan, setia pada kejujuran tanpa mengabaikan fakta dan menjadi inspirasi bagi pemulung ide seperti saya.
Menjadi pemulung ditempat sampah seperti itu sungguh menyenangkan, karena sampah yang mereka buang bukan sampah sembarang sampah tapi tambahan nutrisi bagi pikiran, jiwa dan hati saya.
Jangan!, jangan marah sama teman saya, karena saya yakin dia mampu menulis jauh lebih baik dari saya dan mungkin dari beberapa orang yang saya kenal. Medianya ; kalau saya memanfaatkan fasilitas blog gratisan karena saya gaptek (sungguh-sungguh ;p), teman saya itu jauuuuuh dari kata gaptek, jadi somewhere out there siapa yang tau ternyata dia punya tulisan sekelas pulitzer. Atau mungkin dia merasa belum perlu menulis karena–tidak seperti saya—dia mampu menyelaraskan kerja otak dan mulut/ucapannya.
Dan bagaimana bisa saya marah padanya, dia teman yang pernah bilang bahwa saya adalah orang yang paling konsisten memilih inkonsistensi sebagai bagian dari perjalanan hidup saya and that’s why i love him (but not in love, sorry) hehe.
———————————————————————————————————–
Mau
Sehat, Menulislah!!
By
sabrul.jamil, 18 maret 2008
Menurut Fatima Mernissi, sebagaimana dikutip Hernowo dalam bukunya
Quantum Writing, menulis itu menyehatkan.
Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi
segar kembali akibat kandungannya yang luar biasa! Dari saat Anda
bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di
atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan
kulit Anda akan terasa segar kembali.
Seberapa jauh kebenaran kata-kata tersebut, saya pribadi belum
membuktikannya. Namun, ternyata telah ada penelitian yang membuktikan
dampak menulis bagi kesehatan. Berikut petikan dari buku Quantum
Writing,
Pada tahun 1990-an, seorang psikolog yang telah melakukan penelitian
selama lima belas tahun tentang pengaruh upaya membuka diri terhadap
kesehatan fisik, menerbitkan sebuah buku berjudul Opening Up: The
Healing Power of Expressing Emotions. “Buku Opening Up ini membahas
bagaimana upaya mengungkapkan segala pengalaman yang tidak
mengenakkan dengan kata-kata bisa mempengaruhi pemikiran, perasaan,
dan kesehatan tubuh seseorang. Buku ini ditulis berdasarkan
pengalaman saya sebagai peneliti, bukan sebagai dokter atau terapis,”
tulis Pennebaker di awal “Prakata” untuk buku karyanya.
Pennebaker menunjukkan kepada kita, sekali lagi, pelbagai manfaat
menulis sebagaimana tersaji berikut ini:
1. Menulis menjernihkan
pikiran. Saat memulai tugas yang rumit, cobalah untuk menuliskan
pikiran dan perasaan Anda. Para ahli hipnotis profesional sering
menggunakan teknik ini untuk mempercepat proses hipnotis. Pada
dasarnya, mereka meminta klien mereka untuk menuliskan pikiran dan
perasaan mereka pada saat itu. Saat klien mereka selesai menulis,
ahli hipnotis ini meminta klien untuk merobek kertas yang mereka
pakai dan membuangnya. Hal ini merupakan sebuah tindakan simbolis
bagi penjernihan pikiran.
2. Menulis mengatasi trauma yang
menghalangi penyelesaian tugas-tugas penting. Sesudah terjadinya
sebuah kemelut yang besar, orang-orang cenderung dihantui kejadian
itu. Dalam memikirkan trauma itu, dan bahkan dalam upaya untuk tidak
memikirkannya, orang-orang akan menggunakan kapasitas
pikiran-pikirannya yang terbesar. Oleh sebab itu, mereka akan menjadi
pelupa dan tidak bisa memusatkan perhatian mereka pada
pekerjaan-pekerjaan baru yang besar. Menulis tentang trauma akan
membantu dalam mengelola trauma, dan dengan demikian membebaskan
pikiran untuk menangani tugas-tugas lainnya.
3. Menulis membantu
memecahkan masalah. Karena menulis mendorong proses integrasi
informasi, maka menulis bisa membantu memecahkan masalah-masalah yang
rumit. Jika seseorang menulis dengan bebas tentang sebuah masalah
yang rumit yang sedang ia hadapi, ia akan lebih mudah untuk
mendapatkan pemecahannya. Ada beberapa alasan untuk hal ini. Salah
satunya adalah bahwa menulis memaksa orang-orang memusatkan perhatian
mereka lebih panjang pada satu topik tertentu daripada kalau mereka
hanya memikirkannya. Karena menulis lebih lambat daripada berpikir,
setiap gagasan harus dipikirkan dengan lebih terperinci. Menulis
lebih bersifat “linier” daripada berpikir, yaitu bahwa menulis
memaksa suatu gagasan untuk ditranskripkan sebelum gagasan lainnya
mulai dipikirkan.
Singkatnya, menulis bisa menjadi sebuah kemampuan yang sangat
berharga dalam mempelajari dan menghadapi dunia. Pada kesempatan yang
tepat, menulis bisa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Meskipun
bukan suatu obat yang serba manjur, penggunaan kegiatan menulis
secara bijaksana bisa memperbaiki kualitas kehidupan bagi sebagian
besar dari kita.
Sudah cukup jelas bagi kita bahwa menulis akan membuat kita lebih
mudah mengingat potongan-potongan data yang tersembunyi di otak kita.
Lebih dari itu, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian tentang
kegiatan mencatat, menulis catatan yang penuh pemikiran, atau, dalam
kasus anak-anak kecil, coretan-coretan, membantu orang-orang untuk
mendapatkan dan mengingat kembali gagasan-gagasan baru. Menulis bisa
membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami
perspektif baru dan unik dari orang lain. Bahkan menulis tentang hal
tersebut akan membuat gagasan-gagasan semakin jelas dan mudah
diingat. Demikian hasil penelitian Pennebaker sebagaimana dikutip
Hernowo dalam bukunya Quantum Writing.
Dengan kata lain, menulis memudahkan dalam proses belajar. Kita semua
tahu, belajar adalah sesuatu yang utama dalam Islam. Segala sesuatu
yang memudahkan kita dalam proses belajar dengan sendirinya menjadi
utama pula.
Di sisi lain, banyak di antara kita yang proses belajarnya hanya
diperoleh ketika melewati pendidikan formal di sekolah. Begitu lulus,
proses belajar mereka pun terhenti. Simaklah kata-kata Stephen R
Covey berikut, dalam bukunya The Seven Habits of The Highly Effective
People,
Sebagian besar dari perkembangan mental dan disiplin studi kita
berasal dari pendidikan formal. Tapi segera sesudah kita meninggalkan
disiplin eksternal sekolah, banyak dari kita membiarkan otak kita
terhenti pertumbuhannya. Kita tidak lagi membaca secara serius, kita
tidak menjajagi subjek baru secara mendalam di luar bidang aktifitas
kita, kita tidak berpikir secara analitis, kita tidak menulis –
sedikitnya tidak kritis atau tidak dengan cara tertentu menguji
kemampuan kita mengekspresikan diri dalam bahasa yang baik, jelas dan
ringkas. Sebaliknya, kita malah menghabiskan waktu kita menonton TV.
Penelitian yang masih berlanjut menunjukkan bahwa di kebanyakan
rumah, televisi menyala sekitar tiga puluh ima sampai empat puluh
lima jam seminggu. Jumlah waktu yang sama banyaknya dengan yang
banyak orang gunakan untuk pekerjaan mereka, lebih banyak dari waktu
yang digunakan untuk sekolah. TV adalah pengaruh sosialisasi yang
paling kuat. Dan ketika kita menonton, kita menjadi subjek dari semua
nilai yang diajarkannya. Ia dapat sangat mempengaruhi kita dengan
cara yang sangat samar dan tidak kentara.
Dalam keluarga kami, kami membatasi kegiatan
menonton televisi sampai sekitar tujuh jam seminggu, yaitu rata-rata
satu jam sehari. Kami mengadakan rapat keluarga untuk membicarakan
hal itu dan melihat beberapa data sehubungan dengan apa yang terjadi
di rumah karena pengaruh televisi.
Kami mendapatkan bahwa dengan mendiskusikannya
sebagai satu keluarga pada saat tak seorang pun bersikap defensif
atau argumentatif, orang-orang mulai menyadari penyakit
ketergantungan karena menjadi kecanduan pada opera sabun atau diet
tetap acara tertentu.
Demikian pernyataan Covey, pakar kepemimpinan terkemuka abad ini.
————————————————————————————————————
“Ketika Kaum Perempuan
Menulis”
Diposting
oleh Bungzhu Zyraith, 30 jan 2008
Kaum hawa biasa
mengeluarkan isi jiwanya kepada sahabat-sahabatnya. Ada sebagian kaum
feminisme ini dalam menumpahkan perasahan ke diary sebagai
tempat ternyaman dalam menuangkan isi hatinya, tanpa disadari
ternyata banyak manfaat yang dipetik dari aktivitas tersebut selain
aman, catatan harian dapat menjadi saksi sejarah bagi kehidupan di
masa yang akan datang. Tanpa mereka sadari tuliasan-tulisan yang di
gali dari perasaan tersebut dapat menjadi sebuah cerpen bahkan novel
ataupun sebuah sejarah pribadi sampai dengan sejarah bangsa yang
kelak di butuhkan bagi anak cucu kita.
Seperti R.A kartini
lebih terkenal memperjuangkan kaum perempuan dibandingkan dengan Dewi
Sartika, Laksamana Kemala Hayati, Cut Nyak Dien dan Cristina Martha
Tiahahu? Alasannya sederhana saja: Kartini terbiasa menulis diary.
Terlepas aspek politisnya, Kartini memiliki bukti-bukti otentik dalam
bentuk teks-teks surat yang beliau kirim lewat surat kepada temannya
di luar negeri seperti ke Nyonya JH. Abendanon.
Surat-surat ini kemudian dibukukan dan dapat dibaca oleh generasi ke
generasi selanjutnya. Gagasan Kartini, lewat apa yang ditulisnya
menjadi inspirasi banyak perempuan, mungkin kalau Kartini masih
hidup, beliau tidak akan percaya coretan tangan yang jujur tersebut
menjadi karangan ilmiah yang berpengaruh sekali bagi bangsa dan kaum
perempuan di Indonesia.
Sang penulis klasikal, Alm. Bunda Hj.
Ani Idrus yang banyak menyumbangkan karya-karyanya lewat pena dari
kelembutan jemarinya yang melahirkan buku-buku yang berjudul; “Wanita
Dulu, Sekarang dan Esok” (1984),
“Menunaikan Ibadah Haji”
(1953), “Terbunuhnya Indira
Ghandi” (1984), “Sekilas
Pers dan Organisasi PWI di Sumatera Utara”
(1985) dan “Doa Utama dalam Islam”
(1987). Yang memberi sumbangan bagi kaum perempuan yang idealisme.
Dalam bukunya “Wanita Dulu,
Sekarang dan Esok” mengatakan
bahwa sejarah kesatuan pergerakan tanah air dan bangsa pergerakan
perempuan Indonesia itu timbulnya justru pada waktu “Sumpah
Pemuda” (28 Oktober 1928) hingga sekarang. Begitulah isi salah
satu buku beliau yang imajinatif dan penuh semangat pejuang yang
tinggi untuk menjadi seorang perempuan Indonesia. Dalam bukunya itu
beliau juga menyebutkan mengenai “Panca Dharma Wanita” yang
memaparkan bagaimana untuk menjadi seorang wanita, yaitu:
1.Wanita
sebagai istri,
2. Wanita sebagai ibu rumah tangga
3. Wanita
sebagai penerus/keturunan
4. Wanita sebagai ibu pendidik
anak-anaknya
5. Wanita sebagai warga masyarakat.
Kini,
penulis muda dari kaum hawa ini laksana jamur di musim hujan ikut
berkreasi dan menyemarakkan tumpukan-tumpukan etalase toko-toko buku.
Satu sisi hal ini sangat menggembirakan. Lonjakan karya-karya berupa
buku dari penulis perempuan mencitrakan peningkatan melek huruf dan
intelektualisasi. Sisi lain ada dari
penulis-penulis perempuan itu membawa misi-misi tersendiri. Mereka
menulis sebagai simbol pemberontakan tehadap ketidakadilan yang
melingkupi dunia perempuan dalam perspektif kesetaraan peran dalam
kehidupan.
Selain, banyak bentuk dan ragamnya namun mudah
dikonsumsi publik, akhir-akhir ini dunia sastra mendapat respon baik
dari khalayak. Karya-karya mereka berusaha menyaingi karya kaum
laki-laki yang begitu berani tampil dengan mengeksplorasi vulgar dan
seksualitas. Seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Fira
Basuki dll. Buku Supernova
karya Dewi Lestari. Buku ini mengisahkan Diva, pelacur kelas kakap
yang berkarakter mandiri, berwawasan luas, kritis, cerdas dan
mempunyai pilihan hidup, tentu saja di dalamnya dibumbui “adegan
bapak ibu,” perselingkuhan dan sebagainya, hal ini menepis
ketidakberdayaan tokoh perempuan yang banyak digambarkan sastra lama.
Seakan-akan menunjukkan hargai pilihan hidup orang dan pekerjaan
seorang pelacur adalah perkerjaan yang sangat terhormat.
Tak
hanya sastra, tulisan pop (populer) misalnya komik, Teenlit
dan Chicklit
juga membanjiri dunia buku. Gaya tulisan
ringan dan enak membuat bacaan ini digandrungi remaja. Pasalnya, isi
buku pop itu tadak jauh-jauh dari propaganda kehidupan “gaul”
bebas nilai. Buku-buku seperti ini sebenarnya cukup membahayakan
stabilitas psikologis dan jati diri generasi muda.
Misalnya,
novel-novel Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet
Senja dan lainnya. Konon
tulisan-tulisan mereka banyak mengantarkan perempuan kepada
hakekatnya kehidupan seorang perempuan. Penulis sekaligus pejuang
Zainab Al-Ghazali juga rajin menggoreskan perjalanan hidupnya selama
enam tahun di penjara lewat tinta semasa Pemerintahan Mesir Gamal
Abdul Naser. Kisah dukanya yang menggugah hati siapapun yang
membacanya. Kisah lara ini bisa dijumpai dalam bukunya yang berjudul:
“Peran dan Tugas Wanita Muslimah
atau Hari-hari dalam hidupku.”
Zainab
al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman,
tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum
perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang
benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai
aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam. Dia lahir di wilayah
Al-Bihira, Mesir pada 1917 dan merupakan keturunan dari kalifah kedua
Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Ketika
masih berusia sangat muda, 10 tahun, Zainab Al-Ghazali telah
memperlihatkan kepandaian dan kelancarannya dalam berbicara di depan
umum. Dan sepanjang hidupnya, dia lantas membentuk dirinya sebagai
orang yang berhasil belajar secara otodidak. Ambisinya yang kuat dan
tekadnya yang membara, membuatnya maju untuk mencapai jenjang
pendidikan tinggi, pada saat kaum wanita pada saat itu jarang yang
mengenyam pendidikan karena dianggap tabu.
Al-Ghazali banyak
dipengaruhi oleh pendiri Ihkwanul Muslimin, Syekh Hasan al-Banna. Ia
memegang teguh pandangannya bahwa tidak ada konflik antara agama dan
politik. Al-Ghazali adalah orang yang lantang mempertahankan syariah
dan kerap menghadapi masalah dengan rezim Mesir pada saat itu,
Presiden Gamal Abdul Naser. Dia mengalami hidup yang penuh siksaan
dalam tahanan rezim itu. Penjara dan siksaan, tidak pernah mematahkan
tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan
warisan berupa perjuangan membela Islam dan reputasinya sebagai
aktivis perempuan yang tanpa ragu melawan sekularisme dan liberalisme
dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam.
Seorang penulis
kelahiran tahun 1940 di Fez, Marokko perempuan yang terkenal, Dosen
tetap dan guru besar Sosiologi di Universitas Mohammed V
Rabat-Marokko dan Gelar Ph.D didapatkan di Universitas Brandels,
Amerika Serikat tahun 1973, Fatima Mernissi, yang telah sekian lama
merebut perhatian para aktivis perempuan dan peminat gender melalui
buku-bukunya seperti Beyond the Veil:
Male-Female Dynamic in Modern Moslem Society-
yang aslinya adalah disertasi doktornya. Dari tulisan-tulisannya,
sedikit atau banyak kita dapat menarik benang merah untaian pemikiran
Mernisi sekitar feminisme: Yakni betapa gigihnya dia menelisik
kekurangan-kekurangan yang ada pada pemerintahan Arab -yang
menurutnya- bukanlah intrinsik karena doktrin agama. Namun, lebih
karena agama itu telah dimanipulasi oleh orang yang berkuasa untuk
kepentingan dirinya sendiri. Mernissi rela “mewakafkan”
sebagian besar usianya untuk melakukan penggalian arkeologis dengan
membuka-buka teks agama dan mengakrabi ruang-ruang perpustakaan.
Dengan maksud, tentu saja, untuk membuktikan hipotesis dia tentang
intervensi budaya patriarkhat
dalam teks-teks sakral yang bersifat misoginis.
Misalnya
kita lihat dalam karyanya “The
Veil and Male Elite,”
(diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “Menengok
kontroversi Keterlibatan Wanita Dalam Politik,”
(Surabaya: Dunia Ilmu, 1997) yang kemudian ia revisi menjadi “Women
and Islam: “A Historical and
Theological Enquiry,”
(diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: “Wanita
dalam Islam,” Bandung: Pustaka,
1994) dan seabrek buku lainnya. Ia pernah mengatakan, dengan menulis
setiap hari kulit kita akan bercahaya dan kencang! Karena bisa jadi
segala yang terpendam dalam benaknya terlampiaskan lewat tulisan
sehingga bisa menjadi kita lebih fresh
dan bergairah dalam hidup.
Bukan kelahiran, kehidupan,
kematian dan kecantikan yang membuat kaum hawa dimuliakan serta
dicintai oleh kaumnya namun akhlak yang baik, keringat, air mata,
kesabaran, kelembutan hati yang diperjuangankan dengan konsisten yang
dapat memuliakan kaum hawa. Oleh sebab itu mulailah dari hal-hal yang
kecil karena suatu saat akan menjadi sesuatu hal yang besar, jangan
ragu-ragu untuk menulis apapun itu sejak dini. Ingat pesan penulis
yang ternama Harry Potter J.K Rowling, “Mulailah
dengan menuliskan hal-hal yang kuketahui tulislah tentang pengalaman
dan perasaanku sendiri.”
perabotan otjehan
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda