belum tertarik situs pertemanan apapun merknya. masih suka keributan suara telpon, masih seneng "ngobrol" Rp 150 (ato gratisan?hehehe), masih belum bosen ketemu orang..
hm..tapi coba aja masukin nama saya di mesin pencari mereka..ketemu? yep emang ada kok tapi itu dia, belum tertarik..
liat nanti dah :)
perabotan otjehan
Aku lahir dari perut bumi, bukan dari perut ibu. Ibuku tak berkelamin. Sebab itulah ibu menghilangkan kelaminku. Entah kenapa di umur sembilan tahun ibu menyuruh seorang nenek tua yang dipanggilnya—dukun—itu menyunat kelaminku hingga tandas. Waktu itu aku menjerit-jerit merasakan rasa sakit yang pahit ketika seluruh bagian klitoris dan labia mayoraku dipotong, seluruhnya. Lalu, vulvaku dijahit dengan benang dan jarum jahit baju murahan tanpa bius hingga hanya akan tersisa sedikit lubang tempat aku kencing dan menstruasi, suatu hari kelak, itupun juga selalu dengan rasa sakit, ketika darah itu keluar, sedikit-sedikit. Belum lagi rasa di perutku yang membuncah seperti kawah mau pecah. Suaraku seperti petir yang tenggelam ditengah badai yang dibuat ibu untukku, hari itu. Ya, aku sangat ingat, hari itu adalah hari yang tidak akan pernah aku lupa ketika ibu mengajari aku tentang rasa sakit. Diam-diam, ibuku yang cantik menyakitiku. Katanya, supaya aku juga cantik.
Kusen jendela kamarku kusam penuh remah-remah karena ngengat kayu, menghitung usiaku yang terus bertambah. Juga ranjang besi tua yang memiliki kasur berseprei putih gading yang selalu berderit jika aku banyak bergerak waktu lelap. Sebuah lampu dua puluh lima watt yang terjebak di kurungan lampion tembaga tua warna kaca hijau yang terduduk di tepi meja rias selalu membuat malamku remang hijau savana luas. Disini, di balik gorden tua kamar ini, aku bisa menatap merpati terbang dengan warna putih segar membuat dadaku berdebar-debar. Lalu impian tentang peri kecil biru laut bercahaya yang terbang mengepak-ngepak seperti kupu-kupu menyelinap masuk ke kamarku lewat jendela itu, menggunakan tongkat berkepala bintangnya dan “Simsalabim!” aku bersayap. Aku diajak terbang menghirup savana luas yang menyisakan napas. Sepuluh tahun berselang. Besok akan ada rasa sakit yang baru. Dua puluh empat jam yang akan mengubah hidupku, dari saat ini.
Detik ini aku mengingat beberapa detik berselang sebelum pisau silet itu menyayat klitorisku. Pisau silet kecil seperti pisau biasa untuk mengeluarkan isi perut ikan, berwarna putih dengan panjang sepuluh senti dan lebar dua senti dengan mata pisau yang baru diasah licin dan bau batu apung yang berkilat selesai dibakar supaya steril itu lima detik lagi akan membuatku menjerit oleh rasa sakit. “Ibu…!” teriakku. Aku masih mengingat detik itu, kemarin, ibu memanggilku dengan lembut dan mengalungi leherku dengan untaian kembang-kembang berwarna-warni yang dipetik dari kebun berjarak sepuluh meter dari rumah kami, ada asparagus, mawar dan melati, harum sekali dan sebuah permen coklat yang dikulumkan ke bibirku sambil berbisik, “Besok adalah hari besarmu, Shinta!”.
Tapi detik itu tak ada ibu. Ketika dukun itu menidurkanku di lantai yang beralas tikar pandan dengan kepalaku menghitung kusen langit-langit rumah. Lututku ditekuk dan diikat. Lalu mulailah ia—dukun yang disuruh ibu itu—menyakitiku. Tak ada seorang pun yang menggubris suaraku yang memekak. Seisi rumah, semua seolah silap dengan keberadaanku, saat itu.
Seandainya saja ibu menyelamatkanku detik itu, membatalkan niatnya dan memelukku, mungkin kamar ini tak akan penuh oleh bau tubuhku. Saat dukun itu mulai menyayat, saat mulutku berteriak dan mengejangkan otot leherku, saat itu juga saraf otot kepalaku pecah berhamburan, mengejar kegelisahan yang setiap hari mirip hantu yang menguntit dan menengokku dari bilik kaca rias yang membiaskan tubuhku. Membuat aku suka berdiam diri di tepi sungai di belakang rumah di balik rumpun-rumpun yang tegas sepuluh tahun kemudian menghilang menjadi pagar tembok yang tinggi mengelilingi rumahku, menatap air berlama-lama yang terpendar oleh lemparan batuku diatas permukaannya. Membuat aku suka mengumpulkan batu memenuhi kantong rok dan baju, menyimpannya lama dan esoknya kutenggelamkan di sungai itu bersama kesialanku. Sungai keluarga, aku menamainya. Sebab disini aku menamai batu-batu itu dengan nama-nama keluargaku, memanggilnya dan melemparkannya ke sungai. Ada batu ibu, setiap hari. Juga batu kakak lelakiku, setelah itu. Aku juga suka telanjang berdiri di depan kaca menatap tubuhku yang semakin tumbuh seperti pentil buah mangga yang serbuknya masuk kekamarku dibawa seekor lebah membawa harum masam merangsang dengan rambatan hitam yang mulai memanjang. Juga bajuku yang tidak boleh memakai celana lelaki tetapi rok yang akan berkibar dengan segar angin membelai kelaminku dan tatap nakal bocah lelaki teman SD ku dengan seronok dan tawa, “Merah!” hingga mukaku jadi ungu dan berjalan dengan tangan menjepit pinggir rokku supaya tak jadi terbang lagi. Tak boleh memanjat, nanti bisa robek jahitannya. Besok, sejam setelah detik yang sama ketika dukun itu menjahit sudut-sudut vulvaku, lelaki itu juga akan menyakitiku, merobek vaginaku yang berlubang hanya seujung jari kelingkingku, memberiku rasa sakit yang hebat, lagi. Sama dengan saat itu. Kecuali, sekarang aku bisa mengubah takdirku, tidak seperti saat kelaminku yang dibuat rata untuk kecantikanku, kata ibu, waktu dulu itu aku belum sanggup menentukan pilihanku.
Sejak hari itu, aku semakin jauh dengan dunia ibu. Aku membenci setiap perempuan tua yang lewat di depan mukaku. Perempuan-perempuan dengan payudara besar menggelembur seperti gantungan buah nangka tua dan saat berjalan akan terpendal-pendal membuatku merasa mual. Juga perutnya yang membuncit seperti dipenuhi sisa anak yang tak kelar keluar karena telah tau semua penipuan yang akan diteruskan padanya. Setiap melihat mereka aku seperti disuruh melihat rasa sakit. Rasa sakit semua ibu yang pada saatnya ditimpakan kepadaku. Aku nyaris tak pernah bicara pada ibu.
Sepertinya ibu juga tidak keberatan dengan sikapku. Aku yang suka mengunci diri di kamar. Aku yang senang menggosok-gosokkan pantatku ke dinding dan merema-remas pentil susuku supaya besar tanpa ibu tau. Membawa tumpukan buku-buku, kosmetik, kitab-kitab, susuk, primbon, belati, hio, CD porno, bir, rokok, ganja juga kelamin perempuan ke dalam kamarku, tanpa ibu tau. Menebar pasir atau biji kedelai memenuhi lantai kamar dan aku berguling-guling dipenuhi gairah, bergemetaran, tanpa ibu tau. Sesekali aku coba memasukkan jari jemariku ke lubang vaginaku, tanpa ibu tau. Tetapi rasa sakit itu menghentikanku.
Aku terjepit sendirian didalam liang kamarku yang gelap dengan dipenuhi rasa takut menunggu saat itu datang, di dalam kamarku yang telah berbau tubuhku. Disini tak pernah ada ibu yang meninabobokan aku. Hanya senyum kaku dan tatap mata dingin. Aku menangkap sebuah rasa cemburu dari kepala ibu sejak kelahiranku. Hingga tak sejenak pun aku merasa nyaman dipelihara ibu. Berjam-jam aku terpekur diam sementara diluar ada sebuah upacara yang dipersiapkan untukku.
Suara talo yang riuh bersauh dengan lagu-lagu. Hingga kamarku pecah dipenuhi serempak dengungan itu. Hingga yang paling akhir Lula, sahabatku datang. Menyapaku.
Enam jam lagi. Tubuhku berkeringat dingin.
“Sebenarnya aku tak mau menanyakan!” aku bolak-balik berjalan dengan muka kusam, menatap tajam Lula. Berhenti. Memutar arahku ke sudut ranjang. Duduk. Mencoba menghitung rambut atau alis mata Lula. Hingga meluncurlah kata-kataku.
“Bagaimana rasanya?”
“Sangat sakit”
“Melebihi waktu dipotong?”
“Sama sakitnya, Robek!”
“Apa bedanya jika aku yang merobek sendiri?”
“Tentu saja beda. Ini adat!”
“Tolong kau saja yang merobeknya. Kau seorang dokter. Bantu aku. Kau bisa membiusku dan menghilangkan rasa sakit itu!”
“Tidak bisa”
“Kenapa?”
“Mereka bisa menentangku!”
“Mereka tidak akan tau jika aku tidak membuka mulut”
“Suamimu bakal tau di malam pertama dan kau bisa diceraikannya. Itu aib!”
“Aku tak mau rasa sakit!”
“Jangan kawin!”
“Aku akan merobeknya sendiri!”
“Bisa infeksi”
“Tak perduli. Mereka tak tau rasa sakitku selama ini”
“Semua ini dilakukan untuk menjagamu”
“Benar begitu?” tanyaku balik.
Lula hanya diam. Mukanya ditekuk tak membalas tatapanku. Jari jemari tangannya membuat anyaman dan bibirnya sesekali bergerak kecil. Kelopak matanya menunjukkan gerakan pupilnya ke berbagai titik di bilah mukanya. Perempuan yang sejak kecil bermain karet denganku meski selang usianya empat tahun diatasku dan sekarang telah menjadi dokter muda itu mencoba menghentikan pembicaraan dengan memilih diam.
“Aku tak bisa menolongmu, sebab aku juga tak bisa menolong diriku sendiri. Tidak seberapa sakit. Kita pernah mengalaminya. Dan itu akan membuat kita terbiasa dengan rasa sakit. Jadi lupakan sesudahnya!”. Hingga Lula akhirnya pulang. Tak ada lagi percakapan di antara kami. Tak juga bisa mengatasi kecemasanku. Entah bagaiman ia bisa mengatasi perasaan ini.
“Kenapa aku tak bisa sepertimu. Bersikap wajar dan menurut saja. Aku menyesal tak bisa melupakan kejadian itu, bahkan membenci ibu!”.
Mungkin Lula lebih dewasa, pikirku. Atau mungkin aku yang tak tau apa yang ada di benak Lula. Aku hanya mencoba memaksakan kehendakku atas diri Lula. Bisa saja. Tentang bagaimana ia menolong dirinya sendiri, aku juga tak tau. Setiap orang memiliki pilihan dan jalan sendiri. Seperti aku saat ini. Tak ada seorang pun yang mencoba mengeluarkan aku dari kegelapan ini, kecuali diriku sendiri.
Sementara aku menghitung rasa sakit yang terus bergelanyutan dipunggungku yang kutanam setiap hari, aku makin merasa tak sanggup. Darah yang menyembur dari potongan kesialan kelaminku, juga sebilah pisau yang mengiris itu menjadi mataku. Selama seminggu aku hanya menatap mata ibu yang selalu menghindariku, seperti menatap sebilah pisau, sejak dukun itu melukaiku. Sejak itu aku lebih suka bermain dengan sebuah boneka berbaju merah tua berambut pirang dan bermata biru mirip saudara kembar Little Missy. Matanya bisa berkedip-kedip. Ia juga bisa menangis. Dengan tubuh kecil inilah, aku banyak bicara dan banyak menceritakan kisahku setiap hari. Aku juga gemar bicara dengan seekor ikan yang terjebak di akuarium yang sebulan kemudian mati karena aku cekik. Aku menangkapnya, menekan tubuhnya dengan kakiku dan merobek mulutnya yang selalu nyunyut karena aku merasa seolah ia mengejekku terus-menerus. Sejak saat itu tak ada ikan di akuarium. Hanya seekor kura-kura hitam yang aku tak suka. Ibu menghadiahi aku sebuah teropong kecil saat ulang tahunku yang ke sepuluh. Aku mulai gemar menatap benda-benda yang jauh. Awan kelinci, gunung gajah, pelangi, kuda sembrani, peri, malaikat kecil telanjang bersayap, UFO dan aliens. Aku melihatnya. Aku sering membicarakannya dengan saudara kembar Little Missyku hingga ia terkantuk-kantuk dan minta bobo.
Dua tahun setelah itu, aku berdarah lagi. Setiap bulan selalu dipenuhi rasa sakit di tiap tetes alirnya menyeret pertikaianku dengan ibu, semakin dalam. Ibu tau jika ia menyakitiku. Juga tentang sebilah pisau itu yang kelak keberi nama: ibu. Jangan tanya kenapa. Sebab bagiku itu bukan sesuatu yang aneh. Coba jelaskan padaku tentang perempuan tua yang sekarang suka mengunyah daun sirih itu, bukankah ia hanya ingin melanggengkan penderitaannya menjadi penderitaanku. Adat siapa yang harus dilanggengkan sebenarnya selain mencoba berbagi rasa sakit yang tidak akan pernah lepas dari garis hidup masyarakatku karena kelaminku perempuan.
Masih lima jam lagi. Pintuku diketuk dari luar. Ada yang mengabarkan penata rias sebentar lagi datang. Aku tersenyum dan menutup lagi daun pintu, menatap gaun pengantin, lau berjalan ke kursi meja rias dan terdiam di situ untuk beberapa lama. Aku menatap wajahku yang memang cantik, paruhan wajah ibu. Hingga tatapanku jatuh pada sebilah pisau silet di atas meja rias. Aku menatapnya dalam-dalam. Pukulan talo menghempaskanku ke gagang benda berkilat itu. Diluar, kepakan burung merpati putih meliuk-liuk mengajak tubuhku menari dan menawarkan sayapnya untuk aku terbang. Seharian pisau itu dingin diatas meja. Hingga akhirnya aku mengambilnya dan merobek seprai ranjangku menjadi selendang panjang, menelanjangi tubuhku lalu mengikat kedua betis dan pahaku. Lalu dengan sigap pisau silet yang aku ambil dari meja rias ibu itu menyentuh lembut lubang kecilku. Terasa dingin di wajahnya yang berkilat saat menyapaku. Sedingin wajah ibu. Aku menggerakkannya pelan dengan rasa sayang bersama rasa sakit yang mulai meresap ke kulit tubuhku. Tapi, yang aku bayangkan detik itu adalah aku merobek kelamin ibu dan kembali memasukinya untuk menemukan kembali riwayatku yang tercerabut dari seluruh napas yang pernah dibaginya didalam rahim itu.
Tak ada sejarah yang tak meneteskan darah. Perkenalkan, namaku Shinta. Jenis kelamin perempuan. Ibu menyunatku dan mengajari aku tentang rasa sakit. Inilah aku, sekarang. Seorang ibu. Aku bersuami. Anak pertamaku perempuan, namanya Pulla. Sekarang umurnya sembilan tahun. Besok adalah hari besarnya. Dan, kami akan berpesta.
--------------------------------------------------------------
happy birthday esti :)
perabotan cerita untuk perempuan, otjehan
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda